Jakarta, Propertytimes.id – Sektor properti ritel di Jakarta menunjukkan pergerakan positif pada kuartal pertama tahun 2026. Meski dibayangi kondisi geopolitik global yang tidak menentu, daya beli masyarakat yang terjaga dan perubahan pola konsumsi ke arah gaya hidup menjadi faktor utama stabilnya performa pasar ini.
Laporan Jakarta Property Market Insight Q1 2026 dari Leads Property Services Indonesia mencatat adanya penambahan pasokan ruang ritel baru melalui pembukaan Pondok Indah Mall 5 (PIM 5) di Jakarta Selatan. Kehadiran mal seluas 26.400 meter persegi ini menambah total stok ruang ritel di Jakarta menjadi 3,58 juta meter persegi.
Dari sisi permintaan, tercatat penyerapan ruang sebesar 26.465 meter persegi sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Sektor makanan dan minuman (F&B) serta kategori busana dan aksesori tetap menjadi penyewa paling aktif. Merek-merek asal luar negeri, khususnya dari Tiongkok seperti Xiaomi, KKV, dan Molly Tea, terpantau gencar melakukan ekspansi pada pusat perbelanjaan kelas atas.
Baca Juga: 86% Konsumen Asia Tenggara Belanja di Mall Online
Tingkat keterisian (okupansi) rata-rata mal di Jakarta berada di angka 90,6 persen, naik tipis 0,1 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Walaupun akan ada tambahan pasokan baru dari Lippo Mall Eastside di Jakarta Pusat dalam waktu dekat, tingkat okupansi diperkirakan tetap stabil pada kisaran 90 hingga 91 persen hingga akhir tahun.
Mengenai harga sewa, beberapa pengelola mal mulai melakukan penyesuaian tarif di awal tahun. Rata-rata harga sewa dasar di Jakarta kini mencapai Rp 480.400 per meter persegi per bulan, naik 2,2 persen secara kuartalan. Wilayah pusat bisnis (CBD) masih mencatat harga tertinggi di angka Rp 593.300 per meter persegi, sementara di luar CBD rata-rata sebesar Rp 432.400 per meter persegi.
Kondisi ekonomi Jakarta dengan PDRB per kapita sekitar 12.500 dollar AS per tahun tetap menjadi daya tarik bagi peritel internasional. Untuk menghadapi persaingan, pemilik mal saat ini lebih fokus melakukan peremajaan konsep dan menyediakan ruang-ruang kreatif yang bersifat temporer (pop-up store) guna menyesuaikan dengan dinamika kebutuhan pasar.





