Jakarta, Propertytimes.id – Indonesia memimpin secara global dalam hal penerapan kebijakan kembali bekerja dari kantor atau return-to-office (RTO). Menariknya lagi, ketika tren kerja hybrid masih dianggap jamak bagi karyawan di belahan dunia lain, mayoritas korporasi di Indonesia justru memperketat kehadiran karyawan di ruang-ruang kerja konvensional.
Merujuk pada laporan JLL Workforce Preference Barometer yang dirilis Jones Lang LaSalle (JLL) pada Selasa (2/3/2026), sebanyak 87 persen karyawan korporasi di Indonesia kini bekerja di bawah kebijakan RTO atau program hybrid yang terstruktur. Angka ini merupakan yang tertinggi di dunia atau melampaui rata-rata global yang berada di kisaran 66 persen.
Data tersebut juga menunjukkan bahwa hampir dua pertiga karyawan di Indonesia diwajibkan bekerja di kantor secara penuh waktu. Fenomena ini kontras dengan situasi global yang lebih condong pada pola kerja fleksibel seperti Australia dan Singapura. Meski mandat ini terkesan kaku, laporan JLL mencatat adanya animo positif dari para pekerja. Sebanyak 87 persen karyawan menyatakan senang kembali ke kantor karena merasa kolaborasi sesama rekan kantor berjalan lebih efektif saat bertatap muka langsung.
BACA JUGA: Sertifikasi Hijau Jadi Senjata Baru Persaingan Gedung Perkantoran
Menurut riset tersebut, kembalinya karyawan untuk bekerja pada gedung-gedung perkantoran turut mencipatakan ekspektasi tinggi terhadap kualitas lingkungan kerja. Terbukti, sebanyak dua pertiga responden menginginkan peningkatan fasilitas kantor dan pengaturan jam kerja yang lebih luwes.
Kepala Riset JLL Indonesia menekankan bahwa fleksibilitas bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan instrumen penting untuk membuat karyawan lebih betah di kantor. Diketahui, sebanyak 54 persen karyawan menyatakan kesediaan mereka untuk berpindah perusahaan demi mendapatkan fleksibilitas kerja. Oleh karena itu, perusahaan kini dituntut untuk tidak hanya menyediakan meja kerja, tetapi juga ekosistem pendukung kesejahteraan karyawan lainnya.
Di sisi lain, kesiapan teknologi menjadi keunggulan kompetitif tenaga kerja Indonesia. Sebanyak 76 persen karyawan tercatat telah menerima pelatihan kecerdasan buatan (AI), melampaui capaian negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. Meski demikian, tantangan inklusi digital masih membayangi, terutama pada kelompok pekerja usia di atas 50 tahun yang merasa belum cukup mendapatkan pembekalan teknologi masa depan.
Kondisi ini diprediksi akan mengubah peta okupansi properti di Jakarta. Setelah sempat mengalami tekanan okupansi, permintaan terhadap ruang kantor kualitas premium (Grade A) diprediksi akan meningkat signifikan. Sebaliknya, minimnya pasokan gedung baru hingga tahun 2028, justru menciptakan perebutan ruang kantor berkualitas tinggi menjadi semakin sengit.





