Kuala Lumpur, Propertytimes.id – Spekulasi mengenai penggabungan usaha (merger) antara dua raksasa properti Malaysia, Sime Darby Property Bhd dan SP Setia Bhd, kembali mencuat ke permukaan. Maybank Investment Bank Bhd (Maybank IB) menyebutkan bahwa momentum ini dipicu oleh langkah Sunway Bhd yang mengajukan tawaran akuisisi senilai RM11 miliar atau setara Rp46,9 triliun (asumsi kurs RM1 = Rp4.266) terhadap IJM Corp Bhd.
Dilansir dari laman New Straits Times, Rabu (28/1), analis Maybank IB, Wong Wei Sum, menjelaskan bahwa kabar merger Sunway-IJM tersebut dapat menghidupkan kembali minat pasar terhadap konsolidasi antara Sime Darby Property dan SP Setia. Kedua perusahaan ini memiliki kesamaan profil pemegang saham mayoritas, yakni Permodalan Nasional Bhd (PNB). Lembaga investasi milik pemerintah Malaysia tersebut memegang saham sebesar 49,35% di Sime Darby Property dan 49,38% di SP Setia.
BACA JUGA: Jumlah Orang Kaya Bertambah, Permintaan Properti Mewah di Malaysia Melonjak
Berdasarkan valuasi pasar saat ini, SP Setia diperdagangkan pada harga 97 sen dengan nilai perusahaan RM4,85 miliar (Rp20,69 triliun), sementara Sime Darby Property berada di level RM1,54 dengan kapitalisasi pasar RM10,47 miliar (Rp44,6 triliun). Jika keduanya bersatu, entitas gabungan ini akan memiliki nilai pasar sebesar RM15,32 miliar atau mencapai Rp65,3 triliun.
Secara strategis, merger ini berpotensi menciptakan pengembang properti terdaftar terbesar di Malaysia dengan cadangan lahan gabungan seluas 6.717,78 hektare. Total nilai pengembangan bruto (Gross Development Value/GDV) dari penggabungan ini diperkirakan mencapai RM237 miliar atau setara Rp1.011,04 triliun. Angka ini jauh melampaui GDV Eco World Development Group Bhd sebesar RM58 miliar (Rp247,42 triliun) dan UEM Sunrise Bhd sebesar RM89 miliar (Rp379,67 triliun).
Wong menilai kondisi saat ini lebih memungkinkan bagi kedua perusahaan untuk melakukan aksi korporasi dibandingkan periode 2014-2015. Sime Darby Property kini telah memperkuat basis pendapatan melalui penyewaan pusat data jangka panjang, sementara SP Setia telah berhasil menurunkan rasio utang bersih menjadi 0,35 kali melalui penjualan lahan non-inti. Meski demikian, pihak Maybank IB menegaskan bahwa wacana merger ini masih bersifat spekulatif dan terdapat risiko volatilitas laba terkait konsentrasi proyek bersama di Battersea Power Station, Inggris.





