JAKARTA, Propertytimes.id – Emiten properti, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) membukukan pemulihan kinerja keuangan pada kuartal III-2026, atau berbalik mencetak laba bersih setelah sempat terkoreksi pada periode yang sama tahun lalu. Stabilitas porsi pendapatan berulang (recurring income) dari portofolio komersial dan perhotelan menjadi penopang utama kinerja pengembang properti ini.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian interim tidak diaudit per 30 September 2026 yang dilansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Rabu (28/10), emiten yang juga dikenal dengan nama Paradise Indonesia ini mencatatkan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp55,02 miliar. Capaian tersebut berbalik dari posisi rugi bersih Rp121,46 miliar pada kuartal III-2025.
Pemulihan bottom line tersebut didorong oleh kinerja pendapatan neto INPP yang terjaga stabil di level Rp1,3 triliun dengan laba bruto mencapai Rp761,44 miliar. Secara keseluruhan, laba periode berjalan perseroan melonjak menjadi Rp170,62 miliar dari sebelumnya rugi Rp21,44 miliar.
Dari sisi neraca, total aset perseroan tumbuh menjadi Rp10,22 triliun dibanding posisi akhir Desember 2025 senilai Rp10,18 triliun. Posisinya ditopang oleh kas dan setara kas yang kuat senilai Rp772,16 miliar. Sementara itu, struktur permodalan perseroan tercatat cukup tebal dengan ekuitas mencapai Rp6,74 triliun dan liabilitas sebesar Rp3,48 triliun.
BACA JUGA: Saham 8 Emiten Properti Ini Masih Disuspensi Bursa, Ada yang Sejak 2019
Wakil Presiden Direktur sekaligus Chief Financial Officer Paradise Indonesia, Surina, mengungkapkan bahwa daya tahan bisnis perseroan di tengah dinamika industri properti sangat bergantung pada penguatan pendapatan berulang. Saat ini, perseroan mengelola sekitar 27 portofolio properti yang tersebar di segmen perhotelan, pusat perbelanjaan komersial, dan hunian.
“Ekspansi portofolio secara konsisten menjadi bagian penting dari strategi pertumbuhan perseroan untuk meningkatkan daya saing dan menciptakan nilai jangka panjang,” ujar Surina.
Guna menjaga stabilitas Arus Kas (cash flow), Paradise Indonesia menargetkan kontribusi recurring income tetap mendominasi di kisaran 70 hingga 75 persen terhadap total pendapatan hingga akhir tahun 2026. Untuk menopang target tersebut, perseroan mematok agenda ekspansi organik dengan meluncurkan atau mengoperasikan sedikitnya dua proyek properti baru setiap tahunnya.
Perluasan Program Keberlanjutan
Di luar kinerja keuangan, pengembang yang genap berusia 24 tahun ini juga mulai mengintegrasikan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) ke dalam strategi operasionalnya. Melalui program Future Maker di bawah naungan kampanye #BuildingTomorrow, perseroan mendorong keterlibatan unit bisnis dalam proyek kemasyarakatan dan pendidikan.
Presiden Direktur Paradise Indonesia, Andri Hadi, mengatakan pendekatan tersebut dirancang untuk menciptakan dampak pendampingan yang berkelanjutan bagi komunitas di sekitar wilayah operasional perseroan.
BACA JUGA: Sinyal Pelonggaran KPR di Triwulan IV 2026, Angin Segar atau Semu bagi Sektor Properti?
“Kerja sama lintas unit serta kesediaan mendengarkan kebutuhan lapangan menjadi kekuatan program ini. Setiap kontribusi dirancang agar menjadi bagian dari pendampingan sosial yang terukur,” kata Andri.
Sebagai bagian dari proyek percontohan pada 2026, perseroan bermitra dengan Happy Hearts Indonesia membangun Sekolah Luar Biasa (SLB) Budi Mulia Pasir Meong di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Proyek fasilitas pendidikan inklusif ini memanfaatkan teknologi blok bangunan berbahan dasar plastik daur ulang.
Chief Corporate Communication Paradise Indonesia, Siti Utami, menyebutkan penggunaan material ramah lingkungan tersebut diproyeksikan mampu menyerap 2 hingga 4 ton sampah plastik sekaligus menekan emisi karbon hingga 10 ton.
Setelah meletakkan fondasi awal tahun ini, Paradise Indonesia merencanakan ekspansi jaringan program sosial dan lingkungan tersebut ke delapan kota wilayah operasional perseroan pada 2027 mendatang.




