Jakarta, Propertytimes.id – Perusahaan konsultan real estat global, CBRE mengumumkan ekspansi signifikan pada lini bisnis advisory di Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat platform layanan komprehensif di Asia Tenggara.
Ekspansi ini memanfaatkan kehadiran CBRE yang sudah berpengalaman di Indonesia, termasuk dukungan dari tim Manajemen Proyek Turner & Townsend yang merupakan anak perusahaan dengan kepemilikan mayoritas CBRE serta Global Workplace Services (GWS) yang beranggotakan sekitar 350 orang.
Dalam dua tahun ke depan, CBRE berencana menambah hampir 100 profesional baru di berbagai segmen pasar seperti perkantoran, ritel, serta sektor industrial dan logistik. Investasi ini diharapkan memperkuat layanan advisory yang mencakup wawasan pasar, panduan strategis, hingga keahlian transaksi.
“Ketahanan ekonomi Indonesia dan posisinya sebagai kekuatan utama di Asia Tenggara menjadikannya pasar yang sangat penting bagi pertumbuhan strategis kami,” ujar Anshuman Magazine, Chairman & CEO, India, South-East Asia, Middle East & Africa, CBRE di Jakarta, Kamis (21/8). Menurut Anshuman, ekspansi bisnis advisory ini adalah bukti keyakinan pihaknya terhadap potensi real estat di Indonesia, sekaligus mencerminkan komitmen CBRE untuk menghadirkan layanan terintegrasi kelas dunia. Langkah ini, sebutnya, juga akan bersinergi dengan kapabilitas Turner & Townsend di Indonesia.
“Pendekatan terintegrasi ini akan memberikan klien solusi lengkap mulai dari perencanaan strategis hingga keberhasilan pelaksanaan proyek, dengan memanfaatkan gabungan keahlian kami,” kata Sumit Mukherjee, Head of Real Estate, Asia, Turner & Townsend. Adapun, ekspansi ini nantinya akan dipimpin oleh Angela Wibawa sebagai Head of Indonesia’s Advisory Business.
CBRE menilai peluang pasar Indonesia kian terbuka, seiring pertumbuhan ekonomi yang ditopang konsumsi domestik, kelas menengah yang meningkat, dan masuknya arus investasi asing. Sektor-sektor dengan pertumbuhan tinggi seperti pusat data, rantai pasok baterai kendaraan listrik (EV), hingga lahan industri yang diproyeksi akan terus berkembang.
Selain itu, tren green building dan “flight-to-quality” pada penyewaan perkantoran serta permintaan hunian di kawasan penyangga kota turut memperkuat prospek pasar real estat nasional.





