Jakarta, Propertytimes.id – Pengembang hunian vertikal di Jakarta memilih untuk mempertahankan harga patokan resmi di tengah dinamika pasar properti yang masih menantang. Berdasarkan laporan riset pasar properti kuartal ketiga 2026 yang dilansir dari Colliers Indonesia awal Oktober lalu mengungkapkan, rata-rata harga jual apartemen kelas atas di Jakarta terpantau stabil di kisaran Rp36 juta per meter persegi. Kendati demikian, transaksi di lapangan sejatinya banyak ditopang oleh skema insentif atau pemotongan harga secara tidak langsung.
“Developer enggan merusak benchmark harga melalui pemotongan asking price secara besar besaran. Penyesuaian terjadi melalui effective price, karena itu harga yang dipublikasikan relatif dipertahankan, tetapi biaya yang transaksikan ditekan melalui berbagai insentif,” tulis Colliers Indonesia.
Menurut Colliers, langkah ini diambil para pengembang guna menjaga nilai acuan pasar sekaligus menarik minat calon pembeli tanpa harus merusak struktur harga dasar produk properti mereka. Strategi yang kerap disebut sebagai diskon terselubung ini diimplementasikan dalam beragam program penawaran menarik. Di antaranya adalah pemanfaatan insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), subsidi biaya provisi dan akad kredit, hingga pembebasan iuran pengelolaan lingkungan atau maintenance fee selama tiga bulan sampai satu tahun.
BACA JUGA: Colliers: End User Dominasi Pasar Apartemen Jakarta Kuartal I 2026
Selain insentif finansial langsung, pengembang juga melengkapi penawaran dengan menyertakan paket perabotan lengkap (full furnished) serta peralatan elektronik untuk setiap pembelian unit baru. Melalui pendekatan ini, pengembang dapat memangkas pengeluaran awal yang harus disiapkan oleh konsumen saat akuisisi unit, tanpa perlu merevisi daftar harga resmi ke bawah.
Dari sisi pilihan metode pembiayaan, fasilitas Kredit Pemilikan Rumah atau Kredit Pemilikan Apartemen (KPR/KPA) masih menjadi tumpuan utama masyarakat dalam membeli hunian vertikal. Berdasarkan data riset, “Metode pembayaran KPR mendominasi pembelian apartemen dengan kenaikan mencapai 4 persen secara kuartalan pada Q3 2026,” tulis Colliers Indonesia. Peningkatan ini menegaskan bahwa kemudahan akses perbankan menjadi motor penggerak utama transaksi.
Adapun, metode pembayaran secara tunai keras (hard cash) mencatatkan porsi sebesar 29 persen, diikuti oleh skema tunai bertahap (installment) ke pengembang sebesar 24 persen.
Tingginya tingkat ketergantungan konsumen terhadap fasilitas perbankan menunjukkan bahwa besaran suku bunga kredit, skema uang muka (down payment), serta fleksibilitas tenor menjadi faktor penentu utama yang menggerakkan daya beli masyarakat di sektor apartemen saat ini.





