Jakarta, Propertytimes.id – Tak bisa dipungkiri, tingkat kunjungan masyarakat ke pusat perbelanjaan atau mal di kawasan Jabodetabek terpantau stabil pada kuartal ketiga 2026. Berdasarkan laporan riset pasar ritel yang dilansir dari Colliers Indonesia, keramaian pengunjung mal tersebut didominasi oleh aktivitas makan, hiburan, rekreasi, dan bersosialisasi. Kendati demikian, peningkatkan kunjungan tersebut belum berbanding lurus dengan pertumbuhan volume transaksi belanja.
Menurut Colliers Indonesia, kondisi ini menuntut para pengelola pusat perbelanjaan dan pelaku usaha ritel untuk mengubah fokus strategi bisnis mereka. “Tantangan utama di pasar saat ini bukan lagi sekadar mendatangkan calon pembeli masuk ke area mal, melainkan bagaimana mengonversi jumlah kunjungan harian tersebut menjadi nilai transaksi nyata yang mampu menopang produktivitas toko. Konsumen terpantau semakin selektif dalam mengalokasikan anggaran belanja serta memilah waktu pembelian secara cermat,” tulis Colliers dalam laporannya bertajuk Perkembangan Sektor Properti Q32026 JaBoDeTaBek dan Bali, awal Oktober lalu.
BACA JUGA: Colliers Indonesia: Pasar Ritel Jakarta Fokus pada Renovasi, Mal Baru Masih Terbatas
Tak hanya itu, Colliers menyebutkan, jika dampak dari ketidakseimbangan antara kunjungan dan transaksi ini paling dirasakan oleh segmen pusat perbelanjaan kelas menengah ke bawah. Data Colliers Indonesia menunjukkan bahwa hampir 90 persen atau tepatnya 89,8 persen dari total ruang kosong ritel di Jabodetabek terkonsentrasi pada mal kelas menengah hingga menengah-bawah.
Sebaliknya, ruang kosong pada mal kelas atas dan premium hanya mencatatkan angka 10,2 persen. “Mal di kelas atas didukung oleh ekosistem penyewa yang solid, basis konsumen loyal, serta kekuatan merek yang mapan,” papar Colliers.
Alhasil, bagi pengelola pusat perbelanjaan, upaya peremajaan (rejuvenation) kawasan menjadi sebuah kewajiban. Langkah pembaruan tersebut tidak sekadar bersifat kosmetik atau estetika bangunan, melainkan strategi menyeluruh untuk mengembalikan relevansi pasar, menarik minat peritel kembali, dan meningkatkan produktivitas komersial secara jangka panjang. Sebab, menurut Colliers, keberhasilan pengelolaan pasar ritel ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan ekosistem mal dalam menjaga daya tarik, bukan sekadar mempertahankan angka okupansi fisik.
“Perubahan perilaku juga terlihat jelas pada strategi ekspansi para pelaku usaha ritel. Era pembukaan gerai secara masif dengan prinsip memperbanyak jumlah titik lokasi secara agresif kini telah mulai berakhir. Karena itu, para peritel kini menerapkan seleksi yang jauh lebih ketat terkait lokasi penempatan gerai serta menyesuaikan dimensi ukuran toko secara proporsional dengan potensi penjualan di masing-masing titik. Setiap pembukaan gerai fisik baru dituntut untuk memberikan hasil keuangan yang sepadan dengan besaran modal yang ditanamkan,” pungkas Colliers.





