Property Times
  • Home
  • Headline
  • News
  • The Pavilion Sawangan
  • The Project
  • Building Material
  • Technology
  • Korporasi
  • Design Architecture
  • Travel & Leisure
  • Figure
No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • News
  • The Pavilion Sawangan
  • The Project
  • Building Material
  • Technology
  • Korporasi
  • Design Architecture
  • Travel & Leisure
  • Figure
No Result
View All Result
Property Times
No Result
View All Result
  • Home
  • Headline
  • News
  • The Pavilion Sawangan
  • The Project
  • Building Material
  • Technology
  • Korporasi
  • Design Architecture
  • Travel & Leisure
  • Figure
Home Headline

80 Persen Masyarakat Indonesia Tertekan Kenaikan Biaya Hidup

Redaksi by Redaksi
June 12, 2026
in Headline, Lifestyle, News, Trend
0
Curhatan Salah Satu Debitur BTN: Ketika Restrukturisasi KPR Malah Jadi Masalah Baru

Ilustrasi

0
SHARES
5
VIEWS

Jakarta, Propertytimes.id – Sebanyak 80 persen masyarakat Indonesia merasakan tekanan akibat peningkatan biaya hidup yang terus terjadi sepanjang tahun ini. Kondisi tersebut menempatkan kenaikan biaya hidup sebagai faktor utama yang memengaruhi tingkat ketahanan finansial rumah tangga secara nasional.

Fenomena itu terekam dalam laporan Financial Resilience Index 2026 yang diluncurkan Sun Life Indonesia, Rabu (10/6) lalu. Riset yang menggandeng lembaga survei Genpop pada April 2026 tersebut melibatkan 1.000 responden berusia 18 tahun ke atas dari seluruh wilayah Indonesia.

President Director Sun Life Indonesia Albertus Wiroyo menjelaskan bahwa dinamika ekonomi saat ini memaksa masyarakat untuk menyeimbangkan kebutuhan jangka pendek dengan target masa depan. Menurut dia, kesiapan finansial menjadi instrumen krusial dalam menghadapi ketidakpastian. Peran mitra keuangan yang dapat diandalkan dinilai semakin penting untuk memberikan rasa aman sekaligus membantu perencanaan jangka panjang.

BACA JUGA: Survei Sun Life: 77% Masyarakat Indonesia Berencana Tetap Bekerja di Masa Pensiun

Data survei menunjukkan potret riil keuangan keluarga di Indonesia yang masih rentan. Tercatat hanya 14 persen responden yang merasa sangat aman secara finansial. Sementara itu, proporsi masyarakat yang mampu bertahan lebih dari enam bulan tanpa memiliki penghasilan berada di angka 45 persen. Fakta ini mengindikasikan bahwa mayoritas rumah tangga di Indonesia memiliki bantalan keuangan yang sangat terbatas.

Meskipun secara umum indeks ketahanan finansial mencatat kenaikan pada kelompok sangat tangguh dari 30 persen menjadi 34 persen, pemulihan ekonomi dinilai belum merata. Hal ini terlihat dari adanya penurunan jumlah pada kelompok menengah yang justru memicu pembengkakan proporsi rumah tangga berketahanan rendah.

Tekanan ekonomi juga mengubah orientasi keuangan masyarakat menjadi lebih pendek. Sebanyak 48 persen responden mengaku belum memiliki cetak biru keuangan jangka panjang atau maksimal hanya merencanakan keuangan untuk satu tahun ke depan. Fokus pada pemenuhan kebutuhan harian menjadi prioritas utama bagi 56 persen responden selama setahun ke depan, mengesampingkan aktivitas menabung maupun investasi.

Kenaikan harga barang dan jasa dinilai menjadi batu sandungan terbesar dalam memperbaiki taraf hidup bagi 30 persen responden. Angka ini melampaui hambatan lain seperti pendapatan yang tidak stabil atau minimnya pengetahuan keuangan.

Untuk menyiasati situasi tersebut, masyarakat menempuh sejumlah strategi darurat. Sebanyak 23 persen responden terpaksa menguras tabungan, 26 persen memangkas atau menunda belanja kebutuhan pokok, dan 5 persen memilih menghentikan sementara kontribusi untuk dana pensiun mereka.

Di tengah situasi tersebut, riset menggarisbawahi bahwa tingkat literasi keuangan menjadi faktor pembeda utama yang menentukan ketahanan individu. Masyarakat yang memiliki pemahaman keuangan yang baik mencatat skor 53 poin lebih tinggi dalam indeks kepercayaan finansial skala 100 dan berpeluang tiga kali lebih besar untuk siap menghadapi lonjakan biaya hidup. Kelompok ini juga menunjukkan tingkat optimisme 47 poin lebih tinggi serta lebih minim risiko mengalami stres finansial berkepanjangan.

Korelasi positif antara perencanaan matang dan ketahanan juga terlihat jelas dalam survei. Pada kelompok masyarakat yang memiliki rencana keuangan jangka panjang, 86 persen optimistis target keuangan mereka akan tercapai, dan 78 persen merasa siap menghadapi situasi darurat. Angka ini berbanding terbalik dengan kelompok tanpa rencana jangka panjang, di mana hanya 25 persen yang merasa yakin targetnya tercapai dan hanya 13 persen yang siap menghadapi kondisi darurat.

Selain menyoroti literasi, studi ini juga menangkap pergeseran perilaku masyarakat yang mulai memanfaatkan teknologi kecerdasan artifisial atau AI sebagai pemandu keuangan pribadi. Sebanyak 68 persen responden menggunakan generative AI untuk mencari informasi finansial, dan 67 persen memproyeksikan tren penggunaan teknologi ini akan terus meningkat dalam satu tahun ke depan. Capaian ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan tingkat adopsi AI tertinggi untuk panduan keuangan di kawasan Asia.

Menariknya, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan ini justru paling banyak diadopsi oleh individu yang sudah memiliki literasi keuangan yang baik. Kendati demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa keberadaan AI tidak menggeser peran penasihat keuangan konvensional. Untuk keputusan keuangan yang bersifat kompleks dan strategis, kehadiran penasihat keuangan manusia tetap menjadi rujukan utama yang tepercaya.

Albertus menambahkan bahwa teknologi memang telah mendemokratisasi akses informasi dan literasi, namun pemikiran kritis dari individu tetap mutlak diperlukan untuk mengevaluasi data yang diperoleh. Melalui temuan ini, Sun Life Indonesia menyatakan komitmennya untuk terus mendorong literasi keuangan nasional serta menyediakan solusi proteksi jiwa dan kesehatan yang relevan untuk setiap fase kehidupan keluarga di Indonesia.

Tags: biaya hidupekonomi keluargakecerdasan artifisialketahanan finansialliterasi keuanganperencanaan keuanganSun Life Indonesia
Previous Post

BI Rate Naik, Kelas Hunian Ini Paling Rentan Terdampak

Terpopuler

  • Curhatan Salah Satu Debitur BTN: Ketika Restrukturisasi KPR Malah Jadi Masalah Baru

    Curhatan Salah Satu Debitur BTN: Ketika Restrukturisasi KPR Malah Jadi Masalah Baru

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tatar Bungawari, Manifestasi Wellness dan Kematangan 25 Tahun Kota Baru Parahyangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Tol Bogor-Serpong (via Parung) Segera Dimulai, Pacu Pertumbuhan Ekonomi Koridor Barat Bogor

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tantangan Sektor Properti Tahun 2025

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bapak Real Estate Indonesia Itu Berpulang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
PT Leksana Komunikasi Media

Redaksi, Komunikasi, Pemasaran dan Riset :
Email : redaksi@propertytimes.id redaksi.propertytimes@gmail.com marketing@propertytimes.id

MENU

  • Figure
  • Q&A
  • Brokerages
  • E-Magazine
  • Pedoman Media Cyber
  • Redaksi
  • About
  • Privacy Policy
  • Trademarks
  • Terms of Service

©2018 - 2026 Propertytimes.id

No Result
View All Result
  • Figure
  • Q&A
  • Brokerages
  • E-Magazine
  • Pedoman Media Cyber
  • Redaksi
  • About
  • Privacy Policy
  • Trademarks
  • Terms of Service

©2018 - 2026 Propertytimes.id