Denpasar, Propertytimes.id – Tak bisa dipungkiri, geliat investasi properti di Pulau Dewata kian memanas, terutama didorong oleh tren bekerja jarak jauh. Hal ini menjadikan Bali bukan lagi sekadar tempat berlibur, melainkan rumah kedua bagi warga negara asing (WNA). Dilansir dari laman berita realestate.com.au, Selasa (27/1), Nathan Ryan, pemilik Bali Realty mengungkapkan bahwa wilayah yang membentang dari Seminyak, Canggu, hingga Pererenan tetap menjadi magnet terkuat bagi para pembeli internasional.
Kawasan ini dinilai paling stabil dalam memberikan imbal hasil sewa jangka pendek karena ekosistem gaya hidupnya yang sudah matang. Dirinya menyebutkan bahwa di titik-titik utama kawasan tersebut, unit apartemen dimulai dari harga Rp1,75 miliar ($150.000), sementara villa dibanderol mulai dari Rp2,91 miliar ($250.000).
Selain kawasan barat daya yang modis, perhatian investor kini juga mulai beralih secara signifikan ke arah selatan, tepatnya di wilayah Bukit yang mencakup Uluwatu dan Bingin. Kawasan tersebut tetap menjadi pasar terkuat bagi pembeli asing karena dorongan gaya hidup yang kuat. Di sisi lain pulau, Sanur yang dulunya dikenal sebagai kawasan tenang kini juga muncul sebagai pesaing serius. Hal ini tak lain karena kehadiran rumah sakit baru, pusat perbelanjaan, hingga pelabuhan yang secara tidak langsung telah merevitalisasi kawasan tersebut secara total sehingga Sanur bukan lagi menjadi sisi pulau yang “tertidur”.
Meskipun kawasan populer terus mendominasi Bali, para pengamat properti berpendapat bahwa investor yang jeli mulai melirik wilayah yang lebih autentik demi menghindari kejenuhan pasar. Salah satunya, mulai bergeser ke Tabanan di pesisir barat, serta Candidasa dan Amed di pantai timur. Mereka meyakini bahwa pasokan lahan yang terbatas dan infrastruktur baru di wilayah-wilayah tersebut akan menjadi gelombang investasi berikutnya, terutama di daerah Bukit bagian selatan dekat Bingin yang diproyeksi akan menawarkan banyak peluang emas bagi para investor.





