Jakarta, Propertytimes.id – Tren penjualan rumah kategori luxury (super mewah) di kawasan pinggiran Jakarta kian marak dalam dua tahun terakhir. Menurut pengamat properti, fenomena ini pada dasarnya merupakan strategi developer untuk menawarkan optimisme terhadap kenaikan nilai properti kepada konsumen, atau keyakinan bahwa rumah yang dibeli suatu saat akan memiliki nilai setara dengan rumah-rumah mewah di pusat kota.
Menariknya, anggapan tersebut tidak sepenuhnya berbanding lurus dengan kondisi pasar. Rumah super mewah yang dikembangkan di pinggiran Jakarta, baik di koridor timur, barat, maupun selatan, dinilai masih perlu dipertanyakan kekuatan pasar sekundernya. “Biasanya yang membeli rumah luxury di kawasan pinggiran adalah para pengusaha yang lokasi usahanya dekat dengan rumah tersebut. Pasarnya sangat spesifik dan tidak terlalu banyak,” kata Hendra Hartono, CEO Leads Property Service Indonesia dalam acara Media Briefing bertajuk “Tren Properti 2025 & Market Outlook 2025” yang digelar Leads Property Service di Artisan Lounge, SCBD, pertengahan November lalu.
BACA JUGA: Leads Property: Stabilitas Harga Tak Cukup Dongkrak Permintaan Apartemen Sewa di Jakarta
Kondisi ini, sebutnya, berbeda dari rumah-rumah luxury di kawasan elit Jakarta seperti Kemang, Menteng, dan Pondok Indah. Meski harganya tinggi, pasar segmen ini tetap stabil. Permintaan di pasar sekunder juga tetap ada karena kelangkaan lahan, prestise kawasan, serta akses yang dekat dengan berbagai pusat kegiatan kota.
“Rumah di kawasan elit Jakarta memiliki daya tarik dan nilai jangka panjang. Secondary market-nya hidup. Sementara di pinggiran, produk luxury sering kali dibangun lebih karena kebutuhan mengangkat citra kawasan,” ujar Hendra.
Melihat dinamika tersebut, dirinya mengusulkan pendekatan yang lebih realistis. Alternatif yang dinilai lebih berkelanjutan adalah menjual kavling berukuran besar ketimbang rumah luxury siap huni. “Misalnya menawarkan kavling cukup luas kisaran 3.000 meter persegi atau 5.000 meter persegi. Kavling dengan ukuran seperti itu sudah sangat langka di Jakarta. Kalaupun ada, harganya sudah selangit,” tuturnya.
Menurut Hendra, kavling besar memberikan fleksibilitas lebih kepada pembeli dan membuka ruang bagi pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang. Di saat lahan premium di Jakarta semakin terbatas, pilihan kavling luas di kawasan terencana pinggiran dapat menjadi peluang investasi yang lebih rasional sekaligus tetap menarik bagi pasar kelas atas. “Developer harus memastikan produknya benar-benar punya nilai, bukan sekadar harga tinggi,” pungkas Hendra.





