Tiongkok, Propertytimes.id – Pasar properti Tiongkok diperkirakan akan terus mengalami tekanan hingga tahun depan di tengah permintaan yang masih lemah dan proses restrukturisasi utang besar-besaran oleh para pengembang. Dilansir dari laman berita South China Morning Post, Jumat (17/10), lembaga pemeringkat S&P Global Ratings memperkirakan penjualan properti primer nasional turun 8 persen pada 2025 dan akan kembali turun antara 6 hingga 7 persen pada 2026.
“Kami memperkirakan penjualan properti primer nasional akan turun 8 persen pada tahun 2025 dan antara 6 hingga 7 persen pada tahun 2026, karena permintaan secara keseluruhan masih lemah,” ujar Edward Chan, Direktur S&P Global Ratings dalam sebuah webinar sebagaimana ditulis South China Morning Post. Situasi ini diperkirakan terus memberi tekanan pada para pengembang, banyak di antaranya menghadapi kesulitan menjaga operasi dan memenuhi kewajiban utang mereka.
Salah satu pengembang besar, Cifi Holdings, mengumumkan restrukturisasi utang luar negeri sebesar US$8,1 miliar atau sekitar Rp131,4 triliun. Menurut pengajuan bursa pada Kamis, perusahaan akan membatalkan sebagian kewajiban lama, membebaskan debitur saat ini, menerbitkan obligasi baru senilai US$6,73 miliar atau sekitar Rp109,3 triliun, serta membayar sekitar US$9,5 juta atau sekitar Rp154,3 miliar tunai kepada kreditor. Rencana ini diharapkan dapat memperkuat struktur modal dan mengurangi kewajiban luar negeri sekitar US$1,4 miliar atau setara Rp22,7 triliun.
Langkah Cifi mencerminkan percepatan restrukturisasi di kalangan pengembang properti Tiongkok yang telah memasuki tahun kelima kemerosotan pasar. Awal pekan ini, Sunac China Holdings menyatakan rencana restrukturisasi utang luar negeri keduanya telah disetujui mayoritas kreditor dalam rapat yang difasilitasi pengadilan di Hong Kong. Sementara itu, Country Garden Holdings mengonfirmasi bahwa pemegang saham pengendali menyetujui konversi pinjaman sebesar US$1,14 miliar atau sekitar Rp18,5 triliun menjadi ekuitas sebagai bagian dari program restrukturisasi.
Menurut Glen Ho, pemimpin perencanaan kontingensi dan kebangkrutan Deloitte Asia-Pacific, serangkaian kesepakatan ini mencerminkan upaya signifikan untuk menyelesaikan restrukturisasi sebelum akhir tahun. “Pada tahap ini, yang terpenting adalah menyelesaikan sesuatu dan melanjutkan hidup, bukan memperebutkan persyaratan finansial. Kebanyakan pemangku kepentingan hanya ingin mencapai kesepakatan dan melupakan masalah ini,” ujarnya.
Diketahui, sektor properti dan industri pendukungnya menyumbang sekitar seperempat dari produk domestik bruto Tiongkok. Ron Thompson, Direktur Pelaksana dan Kepala Praktik Restrukturisasi Alvarez & Marsal di Asia, menyatakan kesenjangan ekspektasi antara pengembang dan kreditor kini semakin menyempit. Ia memperkirakan sebagian besar pengembang yang melakukan restrukturisasi akan mencapai kesepakatan komersial dalam 3–6 bulan ke depan, dengan penyelesaian restrukturisasi penuh pada 2026.
Chan menambahkan, stabilisasi pasar baru dapat terjadi ketika tingkat inventaris rumah yang telah dibangun tetapi belum terjual mulai menurun. “Ketika itu terjadi, harga rumah mungkin akan stabil secara bertahap. Stabilisasi harga rumah sangat penting untuk mendukung kepercayaan pembeli, yang saat ini masih cukup rapuh,” ujarnya.
Meskipun pembangunan proyek baru telah menyusut selama beberapa tahun terakhir, inventaris rumah justru terus meningkat. Tekanan berlapis dari sisi permintaan, pembiayaan, dan restrukturisasi utang membuat jalan menuju pemulihan sektor properti Tiongkok diperkirakan masih panjang.





