Jakarta, Propertytimes.id – Survei terbaru dari Sun Life bertajuk “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide” mengungkapkan adanya kesenjangan kesiapan pensiun di Indonesia. Data menunjukkan bahwa 77% responden memperkirakan akan tetap bekerja, atau bahkan sudah bekerja, setelah melewati usia pensiun formal mereka.
Fenomena ini membagi masyarakat ke dalam dua realitas yang berbeda. Kelompok pertama adalah mereka yang memilih tetap bekerja untuk menjaga stimulasi mental (36%) serta koneksi sosial (48%). Namun, kelompok lainnya terpaksa bekerja karena tekanan finansial, di mana 71% responden menyatakan butuh penghasilan tambahan untuk mencukupi biaya hidup harian.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menekankan pentingnya perencanaan dini. “Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas. Sementara bagi yang lain, hal itu mencerminkan tekanan keuangan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (10/2/2026).
Laporan tersebut juga mencatat tren penggunaan generative AI seperti ChatGPT dan Google Gemini sebagai sumber informasi keuangan yang meningkat pesat dari 13% menjadi 30%. Meski memudahkan, Sun Life memperingatkan risiko perencanaan mandiri tanpa panduan profesional, terutama karena minat masyarakat berkonsultasi ke bank dan penasihat keuangan justru menurun.
Tak hanya itu, tantangan pensiun di Indonesia juga disebut kian kompleks dengan adanya fenomena sandwich generation. Sebanyak 43% responden mengaku menunda pensiun demi membiayai pendidikan atau kebutuhan anak, sementara yang lain harus menurunkan ekspektasi gaya hidup demi merawat keluarga.
Data ESCAP 2023 memperkirakan populasi usia 60+ di Indonesia akan mencapai 64,9 juta pada tahun 2050. Dengan perubahan demografi ini, Sun Life mendorong masyarakat untuk memandang kesehatan sebagai aset utama dan melakukan perencanaan keuangan yang lebih terstruktur guna memastikan masa tua yang nyaman.




