Dublin, Propertytimes.id – Industri infrastruktur digital Indonesia tengah berada di jalur ekspansi besar-besaran. Berdasarkan laporan terbaru yang diterbitkan ResearchAndMarkets.com bertajuk “Indonesia Data Center – Market Share Analysis, Industry Trends & Statistics, Growth Forecasts (2026-2031)“ yang dikutip dari laman sg.finance.yahoo.com, nilai pasar data center di tanah air diprediksi melonjak drastis hingga menyentuh angka USD 3,48 miliar (sekitar Rp54,5 triliun) pada tahun 2031.
Pertumbuhan ini mencerminkan kenaikan tahunan rata-rata (CAGR) sebesar 13,71% dari posisi USD 1.83 miliar di tahun 2026. Tak hanya dari sisi nilai pasar, kapasitas muatan IT (IT load capacity) juga diperkirakan meroket dari 1,44 ribu megawatt pada 2025 menjadi 3,56 ribu megawatt di tahun 2030.
Mengutip laporan tersebut, pesatnya pertumbuhan ini dipicu oleh ekspansi agresif pemain hyperscale global. Raksasa teknologi seperti AWS, Google Cloud, dan Microsoft telah mengaktifkan wilayah multi-availability zone (multi-AZ) di Indonesia untuk memastikan latensi rendah di bawah 20 ms bagi pengguna domestik. Langkah ini sejalan dengan meningkatnya konsumsi digital dari 272 juta penduduk Indonesia serta kewajiban lokalisasi data sesuai regulasi perlindungan data pribadi.

Jakarta dan Batam Sebagai Magnet Investasi
Jakarta tetap menjadi lokasi dominan berkat jaringan serat optik yang luas dan titik pendaratan kabel bawah laut strategis. Namun, Batam kini muncul sebagai kekuatan baru. Kedekatannya dengan Singapura memungkinkan Batam menangkap limpahan permintaan (spillover demand) dari negara tetangga, memicu percepatan berbagai proyek greenfield.
BACA JUGA: Tren Lahan Industri Jabodetabek 2026, Logistik dan Data Center Jadi Penopang Utama
Daya tarik Indonesia kian kuat berkat kebijakan pemerintah yang memungkinkan kepemilikan asing hingga 100% di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Insentif pajak berupa depresiasi yang dipercepat juga berhasil memangkas biaya proyek secara signifikan. Hal ini terbukti dari masuknya komitmen investasi lebih dari USD 750 juta sejak 2024, termasuk kolaborasi strategis seperti Korea Investment Partners dengan Sinar Mas Land.
Meski tumbuh subur, industri ini menghadapi tantangan besar terkait emisi karbon. Mengingat pasokan energi nasional masih didominasi batu bara, operator data center kini berjuang memenuhi target dekarbonisasi klien multinasional. Saat ini, Sertifikat Energi Terbarukan (REC) masih menjadi solusi meski biayanya cukup tinggi akibat ketimpangan antara pasokan dan permintaan.
Dari sisi teknis, fasilitas Tier 3 tetap menjadi pilihan utama dengan pangsa pasar mencapai 83,90% pada 2025. Standar ini dinilai paling ideal karena menawarkan keandalan tinggi tanpa biaya pembangunan semahal Tier 4. Beberapa pemain kunci yang terus memperkuat posisinya di pasar Indonesia antara lain PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC), PT DCI Indonesia, Indosat Tbk (BDx), serta penyedia global seperti Alibaba Cloud dan NTT Ltd.




