Dari sisi tata kota, rancangan ini menempatkan ruang publik sebagai bagian penting dari komposisi bangunan. Podium dirancang terangkat untuk menciptakan area terbuka di lantai dasar yang dapat diakses pejalan kaki. Ruang ini direncanakan terhubung dengan simpul transportasi publik di sekitarnya, termasuk stasiun MRT, halte TransJakarta, jalur pedestrian, dan jembatan penyeberangan orang di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Salah satu elemen yang diusulkan adalah amphitheater terbuka yang menghadap ke koridor Sudirman. Kehadiran ruang ini dimaksudkan untuk memungkinkan aktivitas sosial dan budaya berlangsung di kawasan yang selama ini identik dengan fungsi bisnis dan perkantoran.

Pendekatan lokal juga diterapkan pada desain fasad podium. Pola yang terinspirasi dari Cukin Betawi diterjemahkan dalam bentuk panel berpori, menciptakan permainan cahaya dan bayangan sekaligus memperkuat identitas visual bangunan. Sementara itu, bagian menara menggunakan sistem fasad berperforma tinggi yang dirancang untuk menekan beban panas matahari dan meningkatkan efisiensi energi.
Orientasi bangunan memanjang mengikuti arah barat laut dan tenggara, menyesuaikan lintasan matahari dan karakter tapak. Strategi ini dikombinasikan dengan pengaturan rasio jendela dan dinding serta penggunaan elemen peneduh pasif, yang secara keseluruhan ditujukan untuk mendukung efisiensi operasional bangunan.

Sebagai bangunan tinggi di kawasan dengan aktivitas seismik, aspek keselamatan dan ketahanan struktur turut menjadi perhatian. Rancangan ini memasukkan pembagian zona sirkulasi vertikal, lantai evakuasi, serta sistem darurat yang direncanakan sejak tahap konseptual. Prinsip keberlanjutan juga hadir melalui integrasi ruang hijau vertikal, sky terrace, serta pemanfaatan air daur ulang. Bagaimana menurut Anda?





