Jakarta, Propertytimes.id – Tiga hari berturut-turut Jakarta tak henti bergemuruh. Jalanan penuh dengan lautan massa yang berteriak menuntut keadilan, sebagian melampiaskan amarah pada pagar-pagar besi dan spanduk pemerintah. Di luar gedung parlemen, ribuan orang mengibarkan poster bertuliskan protes atas biaya hidup yang kian mencekik.
Asap dari plastik terbakar dan gas air mata terus menyesaki udara, sementara aparat berjaga dengan tameng dan helm baja. Bagi sebagian orang, demonstrasi adalah ledakan suara rakyat. Namun, bagi pelaku usaha, terutama sektor properti, gejolak politik dan aksi demonstrasi besar-besaran selalu membawa bayang-bayang ketidakpastian. Nilai rupiah melemah dan bursa saham terguncang.
Media internasional seperti Reuters, Forbes hingga The Australian, bahkan menulis bahwa protes di Jakarta telah menekan sentimen investor dan mengikis rasa percaya pada stabilitas ekonomi. Sebaliknya, di tengah kekacauan, para pengembang properti memilih diam, menahan napas, sembari menghitung risiko.
Dalam sejarah, situasi seperti ini memang pernah terjadi. Tahun 1998, krisis moneter bukan hanya meruntuhkan nilai mata uang, tapi juga menenggelamkan ambisi-ambisi megah para pengembang. Banyak proyek berhenti di tengah jalan dan terbengkalai.
CEO Leads Property Services Indonesia, Hendra Hartono, menilai arah pasar properti saat ini masih sulit diprediksi lantaran situasi yang terus berubah. “Masih susah ditebak, karena situasi sangat dinamis dan bisa berubah-ubah. Tergantung seberapa cepat pemerintah mengatasi dan menanggapi tuntutan rakyat,” ujar Hendra kepada Propertytimes, Minggu (31/8).
Dirinya menambahkan, dampak gejolak politik dan sosial secara tidak langsung memang cukup terasa pada subsektor properti tertentu. “Terutama retail, industrial, dan komersial,” jelasnya. “Ritel terpukul karena lalu lintas konsumen berkurang sementara, untuk residential, pembelian hunian hanya dilakukan oleh yang benar-benar membutuhkan, bukan untuk investasi para investor,” ungkapnya.
Menurut Hendra, arah pasar ke depan bisa berjalan dalam dua kemungkinan. Jika kondisi cepat terkendali, sektor properti berpeluang pulih bertahap. Namun bila eskalasi berlanjut, tentu sebaliknya. “Sektor properti rentan karena nilai mata uang jatuh, daya beli menurun, dan demand serta sentimen positif investor berkurang,” tutur Hendra.
Untuk kondisi saatini, dirinya menyarankan para pengembang untuk bersikap lebih hati-hati. “Sebaiknya mengambil sikap wait and see sambil menunggu dampak dari kebijakan pemerintah setelah aksi demo besar-besaran ini,” katanya.
Ibarat sebuah drama yang menahan klimaks, sektor properti kini seperti berada di persimpangan jalan. Para pengembang menunggu, para investor menunda, sementara masyarakat menimbang ulang kebutuhan versus kemampuan.
Di balik gedung-gedung tinggi Jakarta yang berdiri megah, tak bisa dipungkiri ada kegelisahan yang sama di kalangan para pelaku usaha; apakah pasar akan menemukan jalannya menuju pemulihan, atau justru terseret arus sejarah ke dalam krisis yang pernah begitu menakutkan, tentunya seraya berharap jika pengalaman kelam itu tidak akan pernah terulang.





