JAKARTA, Propertytimes.id – Kinerja emiten properti pada sembilan bulan pertama 2026 (Januari–September) mencerminkan dinamika yang tidak merata di sektor properti. Dilansir dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Sejumlah perusahaan mencatat lonjakan laba, sementara yang lain masih bergulat dengan penurunan pendapatan dan laba bersih di tengah tantangan pasar properti nasional.
Sebagai contoh, Lippo Karawaci dan Agung Podomoro, mampu mencetak pertumbuhan. Sementara itu, Summarecon Agung, Ciputra, dan Jababeka masih menghadapi tekanan dari sisi pendapatan maupun beban, meski Jababeka mencatat pertumbuhan pendapatan yang solid. Karena itu, kemampuan dalam mengelola biaya pembiayaan dan menjaga momentum penjualan akan menjadi kunci kinerja hingga akhir tahun.
PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR) membukukan kenaikan laba bersih yang signifikan. Untuk periode sembilan bulan hingga 30 September 2026, perseroan mencatat laba bersih sebesar Rp1,24 triliun, melesat dibandingkan Rp368,20 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski begitu, dari sisi pendapatan, perseroan mengalami penurunan. Penjualan tercatat Rp5,37 triliun, turun dibandingkan Rp6,51 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan juga turun menjadi Rp5,26 triliun dibandingkan Rp6,37 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan pendapatan sebesar Rp6,27 triliun per kuartal III 2026, turun 2,09% dibandingkan Rp6,41 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen pengembangan properti menyumbang Rp3,59 triliun, diikuti properti investasi Rp1,87 triliun, dan segmen lain-lain Rp804,39 miliar.
Beban pokok penjualan dan beban langsung turun tipis menjadi Rp3,10 triliun dibandingkan Rp3,12 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bersih SMRA tertekan 26,34% menjadi Rp404,78 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan laba per saham turun menjadi Rp24,52 dibandingkan Rp33,29 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, total aset SMRA naik menjadi Rp42,90 triliun dibandingkan Rp38,34 triliun per akhir 2025. Total liabilitas juga meningkat menjadi Rp26,35 triliun dibandingkan Rp22,33 triliun, sementara ekuitas naik menjadi Rp16,55 triliun dibandingkan Rp16 triliun. Kas dan setara kas tercatat Rp4,84 triliun, naik dibandingkan Rp3,09 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
PT Ciputra Development Tbk (CTRA) membukukan penjualan dan pendapatan usaha sebesar Rp7,48 triliun per akhir September 2026, turun 10,79% dibandingkan Rp8,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen penjualan menyumbang Rp5,65 triliun dan pendapatan usaha Rp1,83 triliun, dengan penjualan kaveling, rumah hunian, dan ruko sebagai kontributor mayoritas sebesar Rp5,42 triliun.
Beban pokok penjualan turun menjadi Rp3,95 triliun dibandingkan Rp4,36 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya, sehingga laba kotor menjadi Rp3,52 triliun atau turun 12,33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Adapun, laba bersih CTRA turun 18,5% menjadi Rp1,32 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan laba per saham dasar Rp71 dibandingkan Rp88 pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Total aset CTRA turun tipis menjadi Rp47,01 triliun dibandingkan Rp47,98 triliun per akhir 2025. Liabilitas turun menjadi Rp19,38 triliun dibandingkan Rp21,06 triliun, sementara ekuitas naik menjadi Rp27,63 triliun dibandingkan Rp26,91 triliun. Kas dan setara kas tercatat Rp8,49 triliun, turun dibandingkan Rp9,03 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Berbeda dengan pelemahan yang dialami beberapa emiten, PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) membukukan kinerja positif. Penjualan dan pendapatan usaha APLN tercatat Rp4,4 triliun hingga September 2026, meningkat 66% dibandingkan Rp2,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
APLN membukukan laba bersih Rp216,39 miliar per kuartal III 2026, berbalik dari rugi Rp57,94 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini terutama didorong oleh penjualan Deli Park Medan sejak kuartal I 2026, serta penjualan aset dengan harga premium.
Dari total pendapatan sebesar Rp3,5 triliun berasal dari penjualan aset properti. Perolehan ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan Rp1,7 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan berulang tercatat Rp894,1 miliar, sedikit turun dibandingkan Rp988,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Marketing sales APLN mencapai Rp878 miliar di luar PPN, dengan kontribusi terbesar dari Podomoro Park Bandung, Podomoro City Deli Medan, dan Parkland Podomoro Karawang. Kas dan setara kas APLN naik 28,4% menjadi Rp1,1 triliun dibandingkan Rp844 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) membukukan pendapatan konsolidasi Rp4,25 triliun hingga akhir September 2026 atau meningkat 16% dibandingkan Rp3,67 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan segmen Land Development & Property menguat signifikan pada kuartal III 2026 menjadi Rp1,91 triliun.
Pendapatan pilar infrastruktur naik 15% menjadi Rp2,24 triliun dan berkontribusi 53% terhadap total pendapatan. Laba bruto konsolidasi naik 7% menjadi Rp1,58 triliun, dengan margin 37% dibandingkan 40% pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, laba bersih turun 38% menjadi Rp391,7 miliar dibandingkan Rp634,6 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, terutama akibat biaya refinancing yang bersifat tidak berulang pada kuartal II 2026. EBITDA justru naik 4% menjadi Rp1,36 triliun, dengan saldo kas konsolidasi Rp3,15 triliun.
Marketing sales pilar pengembangan lahan dan properti mencapai sekitar Rp1,52 triliun yang didukung penjualan lahan industri di Cikarang dan Kendal kepada sejumlah perusahaan domestik dan Tiongkok.



