JAKARTA, Propertytimes.id – Pasar kondominium Jakarta mengalami perlambatan permintaan yang signifikan pada kuartal III 2026. Meskipun demikian, harga properti hunian vertikal ini tercatat masih stabil.
Mengutip laporan Jakarta Property Market Insight Q3 2026 dari Leads Property Services Indonesia, Senin (2/11), tidak ada pasokan baru yang selesai pada kuartal ini, sehingga total stok kumulatif tetap di angka 260.236 unit. Jeda ini sejalan dengan tren pengembang yang tetap berhati-hati di tengah serapan yang melambat dan volatilitas makroekonomi global maupun nasional. Namun, pasokan diperkirakan akan kembali bertambah pada kuartal berikutnya dengan peluncuran Eluna Tower di Casa Grande Residence, Jakarta Selatan.
Dari sisi permintaan, serapan kuartalan hanya mencapai 116 unit atau hampir setengah dari volume yang tercatat pada kuartal sebelumnya. Secara tahunan, kontraksinya bahkan lebih tajam, yakni merosot menjadi sekitar sepertiga dari serapan pada periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, tingkat penjualan (sales rate) bertahan stabil di angka 83,2 persen selama tiga kuartal terakhir.
BACA JUGA: Kementerian PKP Catat Penyaluran KUR Perumahan Rp29,17 Triliun atau 70,85 Persen dari Target
Leads Property menilai bahwa sektor kondominium masih didominasi oleh pengguna akhir (end-user), yang didukung oleh perpanjangan insentif PPN DTP untuk unit siap huni dan harga kompetitif dari pengembang. Permintaan tetap resilien, terutama di segmen upscale di mana pembeli lebih menyukai tata ruang yang lapang.
“Harga kondominium Jakarta mencatat kenaikan yang sangat kecil, hanya 0,15 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, dengan rata-rata Rp28,34 juta per meter persegi. Kawasan CBD dan prime area masing-masing mencatat Rp58,64 juta dan Rp49,99 juta per meter persegi,” sebut Hendra Hartono, CEO Leads Property.
Menurut Hendra, ke depan, aktivitas transaksi diproyeksikan tetap ada terutama berasal dari segmen menengah ke atas. Yang menarik, meskipun insentif PPN DTP 100 persen memberikan katalis sementara bagi likuiditas pasar sepanjang 2026, namun sektor hunian vertikal menghadapi persaingan struktural yang semakin ketat dari pasar rumah tapak di Jabodetabek.
Adapun, apartemen segmen mass-market mungkin akan beralih ke kemitraan dengan hotel, operator co-living, atau perusahaan manajemen aset untuk memonetisasi unit studio dan satu kamar tidur. Dengan tren tersebut, harga pasar diproyeksikan tetap stabil.



