Jakarta, Propertytimes.id – Emiten properti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan perolehan laba tahun berjalan sebesar Rp1,2 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 34,6 persen dibandingkan laba tahun 2024 yang mencapai Rp1,84 triliun. Meskipun industri properti menghadapi dinamika pasar yang menantang, perusahaan tetap mampu menjaga performa operasional dengan kontribusi pendapatan yang signifikan dari berbagai lini bisnisnya.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian yang dikutip dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (16/3), perusahaan membukukan pendapatan neto sebesar Rp8,76 triliun pada akhir Desember 2025. Sementara pada periode yang sama di tahun 2024, perusahaan mampu meraup Rp10,62 triliun.
Meskipun pendapatan menurun, perusahaan melakukan upaya efisiensi pada pos beban pokok penjualan dan beban langsung yang turun menjadi Rp4,36 triliun dari sebelumnya Rp5,16 triliun. Perolehan ini didukung oleh pengelolaan beban pokok penjualan dan beban langsung yang tercatat sebesar Rp4,36 triliun, sehingga menghasilkan laba kotor perusahaan senilai Rp4,39 triliun.
Summarecon Agung juga mencatatkan laba usaha sebesar Rp2,58 triliun setelah memperhitungkan beban operasional, termasuk beban penjualan serta beban umum dan administrasi. Di sisi lain, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp766,55 miliar pada periode tersebut.
BACA JUGA: Tambah Fasilitas Kawasan, Summarecon Agung Topping Off Harris Hotel Serpong
Dari sisi profitabilitas per saham, laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk berada pada angka Rp46,43 per saham. Angka ini merupakan hasil dari performa tahunan perusahaan yang mencakup laba sebelum beban pajak final dan pajak penghasilan sebesar Rp1,62 triliun.
Selain kinerja pendapatan utama, perusahaan juga mendapatkan dukungan dari penghasilan operasi lain dan bagian laba pada ekuitas entitas asosiasi. Total penghasilan komprehensif tahun berjalan yang berhasil dibukukan mencapai Rp1,19 triliun, setelah disesuaikan dengan beberapa pos non-operasional seperti pengukuran kembali liabilitas imbalan kerja.
Kinerja keuangan ini mencerminkan langkah strategis Summarecon dalam mengelola portofolio aset dan proyek pengembangan kawasan di tengah fluktuasi ekonomi nasional. Seluruh data keuangan ini telah disajikan sesuai dengan standar pelaporan keuangan yang berlaku di Indonesia untuk memberikan gambaran transparan bagi para pemegang saham dan investor.





