Subang, Propertytimes.id – Sektor properti industri di kawasan Jabodetabek dan sekitarnya menunjukkan tren positif yang konsisten di penghujung tahun 2025. Laporan Jakarta Property Market Insight Q4 2025 dari Leads Property Services Indonesia mencatat bahwa permintaan lahan industri tetap berada di level tinggi, didorong oleh ekspansi masif sektor logistik dan pusat data (data center).
Keberlanjutan tren ini didukung oleh capaian realisasi investasi nasional yang diproyeksikan tumbuh 12,6 persen pada tahun 2026, setelah menyentuh angka Rp1.931,2 triliun pada 2025. Pertumbuhan ekonomi yang stabil ini menciptakan efek domino bagi pengembang kawasan industri untuk terus mengoptimalkan inventori lahan mereka.
BACA JUGA: Dukung Konektivitas Industri Subang Smartpolitan, Pemerintah Bangun Exit Tol Cipali KM 87+950
Leads Property dalam laporannya menjelaskan bahwa pembukaan akses infrastruktur baru menjadi faktor penentu arah pergerakan pasar. Rencana pengoperasian jalan tol Jakarta-Cikampek (Japek) II pada tahun 2026 diprediksi akan memicu para pemilik lahan di sepanjang koridor tersebut untuk melepas cadangan lahan mereka ke pasar dengan harga yang lebih kompetitif, terutama dalam bentuk lahan mentah (raw land).
“Kami melihat adanya pergeseran preferensi investor ke arah timur. Wilayah seperti Subang dan Indramayu mulai menjadi primadona baru karena menawarkan upah minimum yang lebih terjangkau serta harga lahan yang masih kompetitif dibandingkan kawasan mapan seperti Bekasi atau Karawang,” tulis laporan tersebut.
Sepanjang kuartal IV-2025, rata-rata harga lahan industri tercatat cukup stabil. Di wilayah Bekasi, harga rata-rata berkisar di angka Rp2,71 juta per meter persegi, sementara di Karawang berada di level Rp1,99 juta per meter persegi. Di sisi lain, wilayah Tangerang masih memegang angka tertinggi dengan rata-rata Rp3,1 juta per meter persegi karena kedekatannya dengan akses logistik bandara dan pelabuhan.
Meskipun persaingan harga antar kawasan semakin ketat, Leads Property memprediksi penyerapan lahan akan tetap kuat di periode mendatang. Selain sektor manufaktur konvensional, pertumbuhan ekonomi digital yang menuntut infrastruktur logistik yang efisien akan terus menjadi tulang punggung bagi subsektor industri di Indonesia.





