China, Propertytimes.id – Pertumbuhan investasi di China sepanjang Oktober mengalami penurunan paling tajam sejak masa pandemi. Harga rumah juga turun lebih dalam dari perkiraan. Situasi ini menunjukkan tekanan yang semakin besar bagi pemerintah untuk menjaga pemulihan ekonomi di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Data resmi menunjukkan fixed-asset investment atau investasi aset tetap turun 1,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang terlemah sejak Juni 2020, jauh dari perkiraan penurunan 0,8 persen, dan lebih rendah dari kontraksi 0,5 persen pada September. Pada waktu yang sama, harga rumah baru turun 0,45 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penurunan ini menjadi yang terdalam sejak Oktober tahun lalu dan lebih besar dari penurunan 0,4 persen pada September, menurut laporan Biro Statistik Nasional China (NBS).
Dilansir dari laman Financial Times, Jumat (14/11), Lynn Song, Kepala Ekonom ING untuk kawasan Greater China, mengatakan indikator utama aktivitas ekonomi China melambat hampir di seluruh sektor. Ia menilai ekonomi China masih berpeluang mencapai target pertumbuhan pemerintah sekitar 5 persen tahun ini, tetapi kebijakan tambahan diperlukan untuk menjaga momentum jangka panjang.
BACA JUGA: Pasar Properti China Diprediksi Terus Melemah hingga 2026
Produksi industri pada Oktober tumbuh 4,9 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan analis sebesar 5,5 persen dan berada di bawah pertumbuhan 6,5 persen bulan sebelumnya. Penjualan ritel naik 2,9 persen, sedikit di atas proyeksi 2,8 persen, namun tetap melemah dibandingkan 3 persen pada September. Kedua angka tersebut menjadi yang terlemah sejak Agustus 2024.
Juru bicara NBS, Fu Linghui, mengatakan bahwa meskipun ekonomi secara umum berjalan “relatif stabil” dengan perkembangan sektor industri baru, terdapat banyak ketidakpastian dari faktor eksternal. Ia menegaskan bahwa penyesuaian struktur ekonomi dalam negeri masih menjadi tantangan besar untuk menjaga stabilitas pertumbuhan.
China saat ini menghadapi kondisi yang disebut para ekonom sebagai ekonomi “dua kecepatan”. Ekspor dan investasi masih menahan laju pertumbuhan di tengah ketegangan dagang dengan Amerika Serikat, namun ekonomi domestik melemah karena permintaan rendah dan tekanan deflasi berkepanjangan. Pemerintah telah berupaya meningkatkan permintaan melalui pelonggaran moneter, penerbitan obligasi stimulus, dan program dukungan rumah tangga. Namun konsumsi belum pulih karena sektor properti yang lesu terus menekan belanja masyarakat dan kepercayaan konsumen.
Song menjelaskan bahwa investasi sektor swasta turun 4,5 persen sepanjang tahun berjalan, sementara investasi pemerintah hanya naik 0,1 persen dan berpotensi mengalami kontraksi bulan depan. Ia juga menyoroti kebijakan “anti-involution” yang bertujuan menekan persaingan harga berlebihan. Kebijakan ini, yang muncul akibat kelebihan kapasitas industri dan permintaan dalam negeri yang lemah, dinilai berpotensi menambah tekanan perlambatan ekonomi. Penurunan penyaluran kredit bulan lalu, ketika pinjaman baru dalam denominasi renminbi melemah, menjadi sinyal lain turunnya minat investasi dari sektor korporasi.
NBS mencatat penurunan investasi pengembangan properti yang semakin dalam, dari minus 13,9 persen menjadi minus 14,7 persen secara tahunan. Ekonom Conference Board, Yuhan Zhang, menyatakan data tersebut menunjukkan lemahnya investasi perumahan dan sentimen para pengembang. Ia menambahkan bahwa pasar rumah bekas masih mengalami kelebihan pasokan dan rendahnya kepercayaan konsumen. Zhang juga menyebut bahwa pertumbuhan investasi manufaktur masih terbatas dan tidak merata, terutama didorong oleh sektor otomotif dan peralatan transportasi. Menurutnya, investasi pemerintah kemungkinan tetap mengalir ke sektor infrastruktur, manufaktur teknologi tinggi, dan peningkatan industri.





